Merepotkan sekali untuk
dituntut dan memikirkan masa depan yang tidak habisnya. Masa depan adalah hal
yang abstrak, dan sangat abu-abu. Aku termasuk orang yang begitu menyukai hal
yang masih belum pasti pada tujuan maupun arahnya. Seperti halnya, saat
pembagian ulangan akhir semester atau kenaikan kelas, sangat sulit sekali untuk
mengerjakan hal-hal seperti itu bahkan sampai waktu yang harus dikumpulkan pun
tidak tahu apa yang harus dijawab atau pun apa lagi yang ingin kita tulis.
Halo perkenalkan namaku
Danny Auryn, biasanya dipanggil Danny atau hanya “Dan”. Sekarang aku sudah
menduduki kelas 11 dan aku bersekolah di sekolah yang terkenal di Pontianak
yaitu SMA Santo Paulus Pontianak. Aku mengambil jurusan IPS karena menurutku
jurusan itu asik dan menyenangkan dari teman hingga gurunya.
Waktu yang berlalu cepat,
tidak terasa dari yang masih kecil menjadi dewasa. Dari yang bandel, nakal, dan
sangat tidak jelas menjadi anak yang pendiam, introvert, nolep, dan
tidak mempunyai banyak teman. Selama 16 tahun, sudah banyak kenangan yang aku
lewati ada yang senang dan juga ada yang sedih.
Jika kita mengulang
waktu, Ketika berumur 4 tahun. Mudah sekali untuk menjawab cita-cita jika kita
ditanya oleh guru, orangtua, ataupun teman-teman. Diumur yang masih sangat
kekanak-kanakan, aku sama sekali tidak kesulitan menentukan pilihan hidup saat
itu. Sering kali ada pertanyaan seperti ini
“Danny, kalau sudah besar
cita-citanya apa,?”
Dengan penuh semangat dan lantang aku menjawab atlet bulutangkis.
Jawaban itu keluar dari
anak berumur 4 tahun tersebut. Jika ditanya apa alasannya aku menjawab ingin
menjadi atlet bulutangkis yang menurutku itu menyenangkan. Pertama kali aku
sering menonton bulutangkis karena abang sepupuku yang mengajakku menonton.
“Ini sangat seru, ayo kita tonton bersama,“ ucapnya kepadaku.
Pada saat itu, aku
menonton pertandingan atlet yang Bernama Lin Dan yang berasal dari China
melawan Lee Chong Wei yang berasal dari Malaysia sekitar tahun 2018.
“Wah jago sekali kedua pebulutangkis
ini, sangat sengit sekali,” ucapku lagi.
“Iya ini adalah 2 atlet kelas dunia
yang menduduki peringkat 1 dan 2,” jelasnya kepadaku. “Wah hebat,” aku pun
terkagum.
Aku juga senang bermain
bulutangkis bersama orang tua dan teman-teman ku. Pernah aku mengikuti ekstrakulikuler
bulutangkis saat masih kelas 6 SD. Sampai-sampai, aku didaftarkan oleh guru
penjaskes untuk mewakili sekolahku di kompetisi O2SN. Akan tetapi aku mengalami
kekalahan telak dari lawanku yang membuat aku merasa sedih.
Setelah SD, aku
melanjutkan kesekolah SMP Bruder Pontianak yang merupakan sekolah jenjang SMP
yang terkenal di Pontianak. Disini aku bertemu banyak sekali teman baru akan
tetapi kehidupanku hanya itu-itu saja, aku adalah orang yang sangat tertutup
dengan orang yang baru. Hari-hari ku habiskan hanya dengan pergi kesekolah dan
ketika sudah bel pulang sekolah berbunyi aku pun sudah ditunggu papaku
diparkiran untuk mengantarku pulang kerumah.
Suatu hari aku bertanya kepada diriku
sendiri
“Apa hanya begini saja hari- hariku?
Tidak ada yang menarikkah selain bermain game dan game,” ucapku
dalam hati.
“Tapi selain bermain game aku tidak
tahu apa yang harus kulakukan,” ucapku.
Akhirnya, aku mencoba hal
baru seperti pergi bersama teman-temanku, bermain bulutangkis bersama dan
mengikuti ekstrakulikuler voli. Tetapi bagiku itu percuma saja tidak ada yang
berbeda dari hidupku ini.
Tahun demi tahun
berganti, pikiranku sekarang mulai dapat berkembang dan dapat berpikir luas
akan hal-hal baru yang kutemukan dilingkungan sekitar aku. Dari masa SD hingga
lulus SMP pun, cita-citaku masih sama yaitu atlet Bulutangkis dan juga
kehidupanku juga hanya itu-itu saja. Walaupun begitu aku sudah mengetahui hal
apa yang aku sukai dan lumayan menyenangkan yaitu MATEMATIKA (MTK).
Berawal dari SMP aku melihat video Jerome Polin yang merupakan youtuber berasal
dari Indonesia yang berkuliah di Jepang. Aku seringkali melihat konten
youtobenya yang membahas mengenai materi matematika dari operasi dasar sampai
trigonometri.
Aku juga mulai senang
dengan matematika saat itu, menurutku materi-materi yang ada di sekolah tidak
terlalu sulit untuk dikerjakan. Bagiku, semua yang berhubungan dengan angka itu
sangat menyenangkan. Makanya aku mengambil jurusan IPS saatku SMA saat ini.
Pelajaran menghitung seperti akuntansi, ekonomi, dan matematika. Setiap dari
ketiga pelajaran tersebut aku selalu senang dan moodku yang juga senang.
Akan tetapi, aku pada
saat itu selalu berpikir pendek. Karena setelah aku pikir-pikir Sebagian besar
malahan hampir seluruhnya aku lalui dengan bersenang-senang dengan
teman-temanku seperti bercanda-tawa, saling bercerita satu sama lain,
jalan-jalan mengelilingi kota tercinta ini kota dimana aku lahir. Tidak banyak
atau hampir tidak ada hal-hal serius yang harus aku pusingkan.
“Menurutku, saat itu hanya bersenang-senang
saja dan apa yang harus ku pusingkan, aku pun juga masih baru lulus SMP, masih
kecil belum 17 tahun,” ucapku dalam hati.
Hampir semua pertanyaan
yang ditanya kepadaku, aku jawab dengan santai dan acuh tak acuh. Serta aku
menggangap hal itu adalah hal yang sepele hal yang tidak perlu dipikirkan anak
SMP.
Sampai akhirnya saat SMA,
tembok yang sudah ku bangun tinggi-tinggi sejak kecil, hancur dan roboh sampai
tak tersisa. Mimpi buruk untukku. Disaat teman-temanku menceritakan hal-hal
indah di SMA, aku malah harus melewati cerita yang sedikit tidak indah. Semua
pikiran bebas, bahagia, dan keceriaan yang aku rasakan dimasa SMP dan
sebelumnya hilang begitu saja sampai tak tersisa. Mungkin faktor penyebabnya adalah
lingkungan yang baru dan juga teman-teman yang baru menjadi faktor berubahnya
diriku dari sifat sampai pikiranku.
Hari-hariku semasa SMA
ini dengan perasaan yang begitu saja yaitu HAMPA, tidak ada apa-apa didalamnya
seperti aku yang berdiri ditengah-tengah hutan yang dikelilingi oleh
pohon-pohon yang menjulang tinggi pada malam hari. Yang bahkan melihat bayangan
aku sendiri saja pun mungkin atau bahkan tak bisa. Sehingga hari-hari aku
berada didalam kelas hanya mengerjakan tugas, berbincang dengan teman-teman di
kelas, bercanda ria, akan tetapi rasanya tetap saja, HAMPA. Itu yang ku rasakan
saat ini. Bagiku, semua kegiatan disekolah hanya formalitas saja.
Aku selalu berdoa kepada
Tuhan agar dapat menemukan jawaban dibalik semua ini. Doaku langsung dijawab
oleh Tuhan, aku mendapatkan satu hal yang terang dan indah ditengah mimpi yang
gelap dan buruk saat itu.
Aku menemukan secerah harapan yang sangat
bermakna dan terang. Harapan atau cahaya tersebut adalah seorang teman yang
sangat akrab atau biasa disebut sahabat. Sejak aku bertemu dengannya, aku yang
dulunya introvert atau terlalu tertutup terhadap lingkungan menjadi
mulai terbuka dengan orang yang disekitarku.
Sahabat menjadi sesuatu
yang penting dihidupku, karena sebagian waktuku disekolah hanya bersama dia dan
dia saja. Setiap istirahat atau bunyi bel istirahat, aku selalu makan bekal
bersamanya. Dia selalu ada saat aku sedih dan senang, walaupun sahabatku itu
agak aneh atau bertingkah aneh akan tetapi dia tetap sahabatku. Aku selalu
menceritakan apa yang menarik kepada sahabatku begitu sebaliknya juga. Sifat
dan kelakuan yang sama membuat aku dan dia seperti kakak dan adik.
Sekarang adalah tahun
keduaku di SMA (aku naik kelas makanya tahun kedua), disinilah hal berat muncul
lagi. Disaat teman-temanku sudah menentukan dan memikirkan universitas dan
jurusan yang ingin diambil, aku masih memikirkannya.
Kemarin juga, sekolah aku
mengadakan EXPO yang membuat aku bimbang dengan pilihanku. Tetapi, ada dua
universitas yang menurutku bagus yaitu Universitas AtmaJaya dan Raffles
Jakarta, keduanya merupakan universitas ternama dan bagus.
Sebenarnya aku tertarik
dengan Raffles Jakarta, tetapi biaya yang mahal juga membuat aku memikirkan hal
itu juga. Aku juga ragu harus mengikuti kata hatiku sendiri atau pilihan
orangtua. Aku takut orangtua tidak bisa menanggung biaya yang sangat mahal itu.
Setelah ku pikir-pikir
sepertinya aku tidak ingin menjadi atlet karena aku juga kurang suka atau minat
untuk bulutangkis untuk sekarang dan fisikku yang lemah tidak tahu badanku
menjadi lemah. Aku selalu bertanya kepada Tuhan dan orang disekitarku. Dan pertanyaanku
terjawab oleh sahabatku. Sahabat telah membantu membuka pikiranku untuk mulai
memikirkan masa depan.
Lingkungan yang positif sangat
membantu untuk melihat kembali kedalam diriku. Lampu yang sebelumnya padam,
sedikit demi sedikit menemukan cahaya yang sangat terang. Aku berkeinginan
untuk mempelajari hal yang dapat mengasah kemampuan dan bakatku yang dimiliki.
Sudah ada beberapa pilihan yang aku temukan dan mungkin cocok denganku anatara
lain:
Matematika, pelajaran yang aku suka
sejak SD sampai sekarang. MTK adalah pelajaran yang sangat amat seru karena
berhubungan dengan berhitung dan angka. Dan dicerita sebelumnya aku juga sangat
senang melihat konten Jerome Polin yang membahas tentang matematika di Jepang.
Aku kira sulit ternyata memang sulit jika kita tidak tahu dasarnya
mengerjakannya bagaimana. Aku selalu latihan agar bisa berkuliah diluar
Indonesia dijurusan matematika.
Akuntansi, pelajaran yang baru aku
temukan saat masuk SMA jurusan IPS ini. Pertama kali mempelajarinya kelihatan
tidak terlalu sulit hanya menghitung uang yang dikeluarkan atau pemasukan suatu
perusahaan. Akan tetapi, makin kesini akuntansi menjadi ribet dan sangat
banyak. Kita harus menggambar tabel dan menghitung dengan teliti. Jika kita
melakukan kesalahan sedikit dapat membuat hasil akhir menjadi salah. Tapi itu
serunya, dimana kita harus teliti dan fokus dengan angka. Mungkin bisa jadi aku
akan mengambil jurusan akuntansi daripada matematika itu. Berdasarkan
pengalaman kakak sepupuku yang berkuliah mengambil jurusan akuntansi, dia
berkata bahwa jurusan ini adalah jurusan yang menyenangkan dan bisa membuat
kita stress jika hasilnya berbeda dengan ekspektasi.
Yang ketiga adalah manejemen bisnis,
adalah jurusan yang paling umum dikalangan mahasiswa atau siswa yang baru lulus
SMA pasti atau rata-rata ingin mengambil jurusan ini. Jurusan yang mengajarkan
tentang bagaimana bisnis berjalan dengan lancar dan mungkin kita bisa membangun
suatu perusahaan. Berdasarkan pengalaman abang sepupuku, dia berkata bahwa
manajemen bisnis adalah jurusan yang paling mudah lulus dan tidak susah sekali
untuk membuat skripsinya.
Dari
ketiga jurusan tersebut, mungkin yang paling aku nikmati atau sangat berminat
kepada jurusan akuntansi. Menurutku, pekerjaan yang bisa didapatkan setelah
lulus adalah menjadi akuntan.
“Semoga kedua orang tuaku setuju
dengan pilihan yang aku mau,” ucapku dalam hati.
“Huft, hidup memang banyak kejutan
didunia ini,” ucapku.
Tidak semua yang aku
harapkan dapat berjalan lancar dengan keinginanku. Ternyata kedua orang tuaku
tidak setuju dengan pilihanku. Rasa kecewa yang begitu besar dirasakan oleh
aku.
“Sungguh menjengkelkan,” ucapku.
Tetapi aku pantang
menyerah. Aku terus belajar dengan serius untuk membuktikan kepada kedua orang
tuaku bahwa pilihan yang aku ambil adalah pilihan yang benar dan tepat bagiku.
Hari demi hari sudah ku
lewati, aku selalu memikirkan apakah kedua orang tuaku dapat menerima pilihan
aku ini. Aku selalu bertanya kepada kedua orang tuaku. Akan senang jika kedua
orang tuaku setuju dengan pilihanku.
Aku yang tidak lama lagi
lulus SMA tidak mau berkuliah dengan alasan terpaksa. Aku maunya dengan
pilihanku agar nanti aku tidak bingung, pusing, atau terpaksa menjalankan semua
ini. Aku juga selalu bercerita kepada teman-temanku dan berdoa kepada Tuhan.
Dan jawaban dari teman-temanku hanya
“Sudah jangan terlalu paksakan dengan pilihanmu, percuma jika tidak direstui
kedua orang tuaku”
“Yah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan,
itu hanya akan membuatku stress,” ucapku.
Dan akupun hanya belajar seperti
biasa. Dan aku hanya selalu berdoa agar kedua orang tuaku setuju.
Mimpi sudahku temukan,
dan perasaan nyaman juga mengahampiriku. Senang sekali tidak perlu pusing
memikirkan masa depan tinggal aku jalani hari demi hari. Untuk restu dari kedua
orang tuaku itu bisa dibicarakan dengan orang tuaku.
Semua butuh proses
sebelum untuk mencapai titik yang kita tuju, bahkan Ketika kita sudah
mendapatkan apa yang kita inginkan terkadang kemalasan dan keraguan masih terus
akan datang. Perjalananku belum sampai finish, ini masih baru aku mulai
dan masih banyak yang harus aku lalui. Waktu terus berjalan. Oleh karena itu,
aku akan terus melangkah dan melangkah lebih jauh lagi. Entah apa yang akan aku
temui nantinya.
Intinya, jangan pernah menyerah dan
percaya akan proses, dibalik proses yang sulit maka akan ada hasil yang
memuaskan.