Jumat, 17 November 2023

Keraguan Akan Masa Depan

Merepotkan sekali untuk dituntut dan memikirkan masa depan yang tidak habisnya. Masa depan adalah hal yang abstrak, dan sangat abu-abu. Aku termasuk orang yang begitu menyukai hal yang masih belum pasti pada tujuan maupun arahnya. Seperti halnya, saat pembagian ulangan akhir semester atau kenaikan kelas, sangat sulit sekali untuk mengerjakan hal-hal seperti itu bahkan sampai waktu yang harus dikumpulkan pun tidak tahu apa yang harus dijawab atau pun apa lagi yang ingin kita tulis.

Halo perkenalkan namaku Danny Auryn, biasanya dipanggil Danny atau hanya “Dan”. Sekarang aku sudah menduduki kelas 11 dan aku bersekolah di sekolah yang terkenal di Pontianak yaitu SMA Santo Paulus Pontianak. Aku mengambil jurusan IPS karena menurutku jurusan itu asik dan menyenangkan dari teman hingga gurunya.

Waktu yang berlalu cepat, tidak terasa dari yang masih kecil menjadi dewasa. Dari yang bandel, nakal, dan sangat tidak jelas menjadi anak yang pendiam, introvert, nolep, dan tidak mempunyai banyak teman. Selama 16 tahun, sudah banyak kenangan yang aku lewati ada yang senang dan juga ada yang sedih.

Jika kita mengulang waktu, Ketika berumur 4 tahun. Mudah sekali untuk menjawab cita-cita jika kita ditanya oleh guru, orangtua, ataupun teman-teman. Diumur yang masih sangat kekanak-kanakan, aku sama sekali tidak kesulitan menentukan pilihan hidup saat itu. Sering kali ada pertanyaan seperti ini

“Danny, kalau sudah besar cita-citanya apa,?”

  Dengan penuh semangat dan lantang aku menjawab atlet bulutangkis.

Jawaban itu keluar dari anak berumur 4 tahun tersebut. Jika ditanya apa alasannya aku menjawab ingin menjadi atlet bulutangkis yang menurutku itu menyenangkan. Pertama kali aku sering menonton bulutangkis karena abang sepupuku yang mengajakku menonton. “Ini sangat seru, ayo kita tonton bersama,“ ucapnya kepadaku.

Pada saat itu, aku menonton pertandingan atlet yang Bernama Lin Dan yang berasal dari China melawan Lee Chong Wei yang berasal dari Malaysia sekitar tahun 2018.

“Wah jago sekali kedua pebulutangkis ini, sangat sengit sekali,” ucapku lagi.

“Iya ini adalah 2 atlet kelas dunia yang menduduki peringkat 1 dan 2,” jelasnya kepadaku. “Wah hebat,” aku pun terkagum.

Aku juga senang bermain bulutangkis bersama orang tua dan teman-teman ku. Pernah aku mengikuti ekstrakulikuler bulutangkis saat masih kelas 6 SD. Sampai-sampai, aku didaftarkan oleh guru penjaskes untuk mewakili sekolahku di kompetisi O2SN. Akan tetapi aku mengalami kekalahan telak dari lawanku yang membuat aku merasa sedih.

Setelah SD, aku melanjutkan kesekolah SMP Bruder Pontianak yang merupakan sekolah jenjang SMP yang terkenal di Pontianak. Disini aku bertemu banyak sekali teman baru akan tetapi kehidupanku hanya itu-itu saja, aku adalah orang yang sangat tertutup dengan orang yang baru. Hari-hari ku habiskan hanya dengan pergi kesekolah dan ketika sudah bel pulang sekolah berbunyi aku pun sudah ditunggu papaku diparkiran untuk mengantarku pulang kerumah.

Suatu hari aku bertanya kepada diriku sendiri

“Apa hanya begini saja hari- hariku? Tidak ada yang menarikkah selain bermain game dan game,” ucapku dalam hati.

“Tapi selain bermain game aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” ucapku.

Akhirnya, aku mencoba hal baru seperti pergi bersama teman-temanku, bermain bulutangkis bersama dan mengikuti ekstrakulikuler voli. Tetapi bagiku itu percuma saja tidak ada yang berbeda dari hidupku ini.

Tahun demi tahun berganti, pikiranku sekarang mulai dapat berkembang dan dapat berpikir luas akan hal-hal baru yang kutemukan dilingkungan sekitar aku. Dari masa SD hingga lulus SMP pun, cita-citaku masih sama yaitu atlet Bulutangkis dan juga kehidupanku juga hanya itu-itu saja. Walaupun begitu aku sudah mengetahui hal apa yang aku sukai dan lumayan menyenangkan yaitu MATEMATIKA (MTK). Berawal dari SMP aku melihat video Jerome Polin yang merupakan youtuber berasal dari Indonesia yang berkuliah di Jepang. Aku seringkali melihat konten youtobenya yang membahas mengenai materi matematika dari operasi dasar sampai trigonometri.

Aku juga mulai senang dengan matematika saat itu, menurutku materi-materi yang ada di sekolah tidak terlalu sulit untuk dikerjakan. Bagiku, semua yang berhubungan dengan angka itu sangat menyenangkan. Makanya aku mengambil jurusan IPS saatku SMA saat ini. Pelajaran menghitung seperti akuntansi, ekonomi, dan matematika. Setiap dari ketiga pelajaran tersebut aku selalu senang dan moodku yang juga senang.

Akan tetapi, aku pada saat itu selalu berpikir pendek. Karena setelah aku pikir-pikir Sebagian besar malahan hampir seluruhnya aku lalui dengan bersenang-senang dengan teman-temanku seperti bercanda-tawa, saling bercerita satu sama lain, jalan-jalan mengelilingi kota tercinta ini kota dimana aku lahir. Tidak banyak atau hampir tidak ada hal-hal serius yang harus aku pusingkan.

 “Menurutku, saat itu hanya bersenang-senang saja dan apa yang harus ku pusingkan, aku pun juga masih baru lulus SMP, masih kecil belum 17 tahun,” ucapku dalam hati.

Hampir semua pertanyaan yang ditanya kepadaku, aku jawab dengan santai dan acuh tak acuh. Serta aku menggangap hal itu adalah hal yang sepele hal yang tidak perlu dipikirkan anak SMP.

Sampai akhirnya saat SMA, tembok yang sudah ku bangun tinggi-tinggi sejak kecil, hancur dan roboh sampai tak tersisa. Mimpi buruk untukku. Disaat teman-temanku menceritakan hal-hal indah di SMA, aku malah harus melewati cerita yang sedikit tidak indah. Semua pikiran bebas, bahagia, dan keceriaan yang aku rasakan dimasa SMP dan sebelumnya hilang begitu saja sampai tak tersisa. Mungkin faktor penyebabnya adalah lingkungan yang baru dan juga teman-teman yang baru menjadi faktor berubahnya diriku dari sifat sampai pikiranku.

Hari-hariku semasa SMA ini dengan perasaan yang begitu saja yaitu HAMPA, tidak ada apa-apa didalamnya seperti aku yang berdiri ditengah-tengah hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi pada malam hari. Yang bahkan melihat bayangan aku sendiri saja pun mungkin atau bahkan tak bisa. Sehingga hari-hari aku berada didalam kelas hanya mengerjakan tugas, berbincang dengan teman-teman di kelas, bercanda ria, akan tetapi rasanya tetap saja, HAMPA. Itu yang ku rasakan saat ini. Bagiku, semua kegiatan disekolah hanya formalitas saja.

Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar dapat menemukan jawaban dibalik semua ini. Doaku langsung dijawab oleh Tuhan, aku mendapatkan satu hal yang terang dan indah ditengah mimpi yang gelap dan buruk saat itu.

 Aku menemukan secerah harapan yang sangat bermakna dan terang. Harapan atau cahaya tersebut adalah seorang teman yang sangat akrab atau biasa disebut sahabat. Sejak aku bertemu dengannya, aku yang dulunya introvert atau terlalu tertutup terhadap lingkungan menjadi mulai terbuka dengan orang yang disekitarku.

Sahabat menjadi sesuatu yang penting dihidupku, karena sebagian waktuku disekolah hanya bersama dia dan dia saja. Setiap istirahat atau bunyi bel istirahat, aku selalu makan bekal bersamanya. Dia selalu ada saat aku sedih dan senang, walaupun sahabatku itu agak aneh atau bertingkah aneh akan tetapi dia tetap sahabatku. Aku selalu menceritakan apa yang menarik kepada sahabatku begitu sebaliknya juga. Sifat dan kelakuan yang sama membuat aku dan dia seperti kakak dan adik.

Sekarang adalah tahun keduaku di SMA (aku naik kelas makanya tahun kedua), disinilah hal berat muncul lagi. Disaat teman-temanku sudah menentukan dan memikirkan universitas dan jurusan yang ingin diambil, aku masih memikirkannya.

Kemarin juga, sekolah aku mengadakan EXPO yang membuat aku bimbang dengan pilihanku. Tetapi, ada dua universitas yang menurutku bagus yaitu Universitas AtmaJaya dan Raffles Jakarta, keduanya merupakan universitas ternama dan bagus.

Sebenarnya aku tertarik dengan Raffles Jakarta, tetapi biaya yang mahal juga membuat aku memikirkan hal itu juga. Aku juga ragu harus mengikuti kata hatiku sendiri atau pilihan orangtua. Aku takut orangtua tidak bisa menanggung biaya yang sangat mahal itu.

Setelah ku pikir-pikir sepertinya aku tidak ingin menjadi atlet karena aku juga kurang suka atau minat untuk bulutangkis untuk sekarang dan fisikku yang lemah tidak tahu badanku menjadi lemah. Aku selalu bertanya kepada Tuhan dan orang disekitarku. Dan pertanyaanku terjawab oleh sahabatku. Sahabat telah membantu membuka pikiranku untuk mulai memikirkan masa depan.

Lingkungan yang positif sangat membantu untuk melihat kembali kedalam diriku. Lampu yang sebelumnya padam, sedikit demi sedikit menemukan cahaya yang sangat terang. Aku berkeinginan untuk mempelajari hal yang dapat mengasah kemampuan dan bakatku yang dimiliki. Sudah ada beberapa pilihan yang aku temukan dan mungkin cocok denganku anatara lain:

Matematika, pelajaran yang aku suka sejak SD sampai sekarang. MTK adalah pelajaran yang sangat amat seru karena berhubungan dengan berhitung dan angka. Dan dicerita sebelumnya aku juga sangat senang melihat konten Jerome Polin yang membahas tentang matematika di Jepang. Aku kira sulit ternyata memang sulit jika kita tidak tahu dasarnya mengerjakannya bagaimana. Aku selalu latihan agar bisa berkuliah diluar Indonesia dijurusan matematika.

Akuntansi, pelajaran yang baru aku temukan saat masuk SMA jurusan IPS ini. Pertama kali mempelajarinya kelihatan tidak terlalu sulit hanya menghitung uang yang dikeluarkan atau pemasukan suatu perusahaan. Akan tetapi, makin kesini akuntansi menjadi ribet dan sangat banyak. Kita harus menggambar tabel dan menghitung dengan teliti. Jika kita melakukan kesalahan sedikit dapat membuat hasil akhir menjadi salah. Tapi itu serunya, dimana kita harus teliti dan fokus dengan angka. Mungkin bisa jadi aku akan mengambil jurusan akuntansi daripada matematika itu. Berdasarkan pengalaman kakak sepupuku yang berkuliah mengambil jurusan akuntansi, dia berkata bahwa jurusan ini adalah jurusan yang menyenangkan dan bisa membuat kita stress jika hasilnya berbeda dengan ekspektasi.

Yang ketiga adalah manejemen bisnis, adalah jurusan yang paling umum dikalangan mahasiswa atau siswa yang baru lulus SMA pasti atau rata-rata ingin mengambil jurusan ini. Jurusan yang mengajarkan tentang bagaimana bisnis berjalan dengan lancar dan mungkin kita bisa membangun suatu perusahaan. Berdasarkan pengalaman abang sepupuku, dia berkata bahwa manajemen bisnis adalah jurusan yang paling mudah lulus dan tidak susah sekali untuk membuat skripsinya.

              Dari ketiga jurusan tersebut, mungkin yang paling aku nikmati atau sangat berminat kepada jurusan akuntansi. Menurutku, pekerjaan yang bisa didapatkan setelah lulus adalah menjadi akuntan.

“Semoga kedua orang tuaku setuju dengan pilihan yang aku mau,” ucapku dalam hati.

 

 

“Huft, hidup memang banyak kejutan didunia ini,” ucapku.

Tidak semua yang aku harapkan dapat berjalan lancar dengan keinginanku. Ternyata kedua orang tuaku tidak setuju dengan pilihanku. Rasa kecewa yang begitu besar dirasakan oleh aku.

“Sungguh menjengkelkan,” ucapku.

Tetapi aku pantang menyerah. Aku terus belajar dengan serius untuk membuktikan kepada kedua orang tuaku bahwa pilihan yang aku ambil adalah pilihan yang benar dan tepat bagiku.

Hari demi hari sudah ku lewati, aku selalu memikirkan apakah kedua orang tuaku dapat menerima pilihan aku ini. Aku selalu bertanya kepada kedua orang tuaku. Akan senang jika kedua orang tuaku setuju dengan pilihanku.

Aku yang tidak lama lagi lulus SMA tidak mau berkuliah dengan alasan terpaksa. Aku maunya dengan pilihanku agar nanti aku tidak bingung, pusing, atau terpaksa menjalankan semua ini. Aku juga selalu bercerita kepada teman-temanku dan berdoa kepada Tuhan.

Dan jawaban dari teman-temanku hanya “Sudah jangan terlalu paksakan dengan pilihanmu, percuma jika tidak direstui kedua orang tuaku”

“Yah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, itu hanya akan membuatku stress,” ucapku.

Dan akupun hanya belajar seperti biasa. Dan aku hanya selalu berdoa agar kedua orang tuaku setuju.

Mimpi sudahku temukan, dan perasaan nyaman juga mengahampiriku. Senang sekali tidak perlu pusing memikirkan masa depan tinggal aku jalani hari demi hari. Untuk restu dari kedua orang tuaku itu bisa dibicarakan dengan orang tuaku.

Semua butuh proses sebelum untuk mencapai titik yang kita tuju, bahkan Ketika kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan terkadang kemalasan dan keraguan masih terus akan datang. Perjalananku belum sampai finish, ini masih baru aku mulai dan masih banyak yang harus aku lalui. Waktu terus berjalan. Oleh karena itu, aku akan terus melangkah dan melangkah lebih jauh lagi. Entah apa yang akan aku temui nantinya.

Intinya, jangan pernah menyerah dan percaya akan proses, dibalik proses yang sulit maka akan ada hasil yang memuaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar